Jumat, 01 Juni 2012

Hubungan Keterampilan Menyimak dengan Keterampilan Berbahasa Lainnya

2.1.3    Hubungan Keterampilan Menyimak dengan Keterampilan Berbahasa Lainnya 
1.    Hubungan Keterampilan Menyimak dan Keterampilan Berbicara
Keterampilan menyimak dan keterampilan berbicara merupakan bentuk komunikasi dua arah. Bentuk komunikasi dua arah itulah yang antara lain dapat melandasi pikiran untuk menguraikan hubungan keduanya lebih lanjut, Brooks dalam Tarigan (1994 : 3) menjelaskan bahwa menyimak dan berbicara merupakan kegiatan dua arah yang langsung,   merupakan komunikasi tatap muka atau face to face communication.
Tarigan (1994 : 3) mengemukakan bahwa bunyi suara merupakan suatu factor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata sang anak. Oleh karena itu, maka sang anak akan tertolong kalau mendengarkan serta menyimak ujaran-ujaran yang baik dan benar dari para guru-guru, rekaman-rekaman yang bemutu, cerita-cerita yang bernilai tinggi, dan lain-lain.
Dari dua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa keterampilan menyimak dan berbicara mempunyai hubungan yang banyak erat. Sebabseorang pembicara pasti memerlukan orang yang akan mendengarkan pembicaranya (penyimak).

2.    Hubungan Keterampilan Menyimak dan Keterampilan Membaca
Keterampilan menyimak dan keterampilan membaca sering kali diperoleh secara bersama-sama dan tunjang menunjang sehingga dapat dikatakan bahwa keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Keeratan ini diperjelas dengan pendapat, ”Untuk  meningkatkan hasil yang hendak dicapai dalam membaca, maka seyogyanyalah setiap keterampilan menyimak diikuti oleh kegiatan membaca yang sesuai   dengan tujuan menyimak tersebut. Dengan kata lain listening gaols harus diikuti oleh reading activity” (Tarigan 1994 : 7). 
Keterampilan menyimak juga merupakan factor penting keberhasilan seseorang dalam belajar membaca secara efektif. Penelitian para pakar atau ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan antara menyimak dengan membaca sebagai berikut:
a.    Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca disampaikan oleh sang guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan sang anak untuk menyimak dengan pemahaman ternyata penting sekali.
b.    Kosa kata simak (listening vocabulary) yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dengan membaca secara baik.
c.    Pembeda-pembeda atau diskriminasi pendengaran yang jelek seringkali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu factor pendukung atau suatu factor tambahan dalam ketidakmampuan membaca (poor reading).
d.    Menyimak turut membantu sang anak untuk menangkap ide pokok atau gagasan utama yang diajukan oleh sang pembicara; bagi para siswa yang lebih tinggi kelasnya ternyata bahwa membaca lebih unggul daripada menyimak sesuatu yang mendadak dan memahami informasi yang terperinci (Tarigan 1994 : 4).
Hubungan keterampilan menyimak dengan keterampilan membaca merupakan komunikasi dua arah. Achsin (1983 : 11) menjelaskan bahwa:   
Menyimak itu bukanlah keterampilan pasif, sebab selama seseorang menangkap ujaran baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan, maka mental orang tersebut terlibat secara aktif mungkinkah lebih baik dikatakan keterampilan menyimak itu disebut keterampilan reseptif karena selama berlangsungnya kegiatan, orang selalu aktif menerima, menangkap, memahami, dan mengingat  ujaran yang disampaikan.

Tarigan (1986 : 8) sendiri mengemukakan bahwa membaca dapat pula diartikan sebagai suatu metode yang kita pergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengkobinasikan makna yang terkandung atau tersirat dalam lambing-lambang tertulis.
Dari kedua pendapat tersebut menimbulkan kesan bahwa menyimak dan menbaca merupakan dua bentuk komunikasi. Bentuk komunikasi dan keterampilan tersebut menyisyaratkan bahwa menyimak dan membaca mempunyai hubungan yang erat. Sebab, menyimak adalah menerima, menangkap, dan mengingat ujaran yang dsisampaikan oleh pembaca dan tentu makna bacaan memerlukan kegiatan lebih lanjut untuk disimak.
3.    Hubungan Keterampilan Menyimak dan Keterampilan Menulis  
Sewaktu menulis, seseorang butuh inspirasi, ide, atau informasi untuk tulisannya. Hal ini dapat diperoleh dari berbagai sumber, sumber tercetak seperti buku, majalah, surat kabar, jurnal atau laporan. Sedangkan dari sumber tak tercetak seperti radio, televisi, ceramah, pidato, wawancara, diskusi dan obrolan. Jika dari sumber tercetak informasi itu diperoleh dengan membaca, maka dari sumber tak tercetak diperoleh informasi itu dengan menyimak.
Di dalam perkuliahan, seorang mahasiswa membuat saat dia menyimak penjelasan dosen. Demikian halnya seorang penulis, dia harus pandai-pandai menyimak suatu informasi yang baru sebagai bahan tulisannya. Melalui menyimak suatu informasi yang baru sebagai bahan tulisannya. Melalui menyimak ini penulis tidak hanya memperoleh idea tau informasi untuk tulisannya, tetapi juga menginspirasi tata saji dan struktur penyampaian lisan yang menarik hatinya, yang akan berguna untuk aktifitas menulisnya (Suparno, 2004 : 1.7). 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar